Sarung Tenun Jogodalu Meraih Prestasi di Kabupaten Gresik

 

Hasil produksi sarung Pak Nursalim

Desa Jogodalu yang terletak dibagian utara kecamatan Benjeng, memang terkenal sebagai sentral pengrajin tenun. Hampir seluruh warganya bekerja sebagai penenun. Bukan hanya kaum perempuannya, melainkan juga beberapa bapak-bapak warga desa Jogodalu.

Hal itu tidaklah membuat heran, sebab desa yang terdiri dari lima gang itu memiliki lebih dari lima orang yang berprofesi sebagai juragan tenun, yang memiliki banyak pekerja. Mereka semua memiliki alasan tersendiri dalam memilih menggeluti usaha ini.

Seperti yang diutarakan salah satu juragan tenun bernama Anis yang membuka usahanya sejak tahun 90-an bersama suaminya, “Saya menjadi juragan tenun tak lain sebab saya mendapatkan warisan usaha ini dari orangtua saya. Beberapa saudara saya juga ada yang menjadi juragan tenun seperti saya”

Lain lagi dengan Nur Salim yang menjadi pengusaha tenun dengan alasan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Usaha yang dirintis bersama istrinya mulai dari nol selama belasan tahun ini, sungguh telah berhasil mengubah perekonomian keluarga dan orang-orang di sekitarnya dengan penghasilan yang cukup memuaskan.

Beliau yang awalnya hanya sebagai seorang pekerja, kini telah membuka usahanya sendiri dan memiliki puluhan pekerja. Dia telah memproduksi sarung tenun dengan merk sendiri. Setiap lembar sarungnya dapat terjual dengan harga antara Rp. 180.000.00 hingga Rp. 250.000.00. Semantara Rp. 40.000.00 adalah nominal upah untuk buruh tenun yang menghasilkan satu kain sarung.

Bahkan sarung tenun yang dibuatnya melalui tahapan-tahapan panjang, mulai dari membuat benang hingga menjadi lembaran kain sarung yang cantik sudah menjadi juara di beberapa perlombaan dan pameran.

“Kain sarung saya memiliki dua motif, yaitu Kembang Jaziaan dan Donggala. Sementara cap produk saya bernama Manggala. Kain sarung yang saya produksi sudah sering saya ikutkan beberapa perlombaan dan pameran, salah satunya event UKM Award tingkat kabupaten. Dalam acara itu saya berhasil meraih juara dua.

Ibu-ibu sedang bekerja dengan mesin tenun tradisional

(Kontributor: Lilis Setiyorini)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *